Ada satu hal yang unik dari kepribadiaan Amir Syarifuddin. Dia seorang terpelajar yang paham Komunis, akan tetapi di satu sisi Dia juga seorang yang “agamis” (Kristen) yang amat mencintai Bijbel (Injil).

Menghadapi Bijbel (Injil) ia Kristen, menghadapi masyarakat dan politik ia Komunis.

Amir Syarifuddin juga dikenal suka marah-marah. Tan Ling Djie (yang memiliki nama samaran Mevrouw Vodegel Soemarmah, Sekretaris Partai Sosialis) tahu dan paham betul akan sifat Amir yang demikian itu. Bila Amir dikritiknya sebagai orang yang kurang radikal, Amir marah-marah, bahkan bisa berlanjut sampai memukuli istrinya di rumah.

Bila hal itu terjadi, maka ajudannya bergegas mengambil sebuah Bijbel (Injil), yang kemudian ditaruhnya Bijbel itu di hadapan Amir. Maka seketika itu pula Amir diam dan menjadi tenang. Ini terjadi waktu ia telah menjadi pemimpin komunis.

Bahkan di akhir hayatnya, ketika dia hendak dieksekusi mati oleh TNI, Amir Syarifuddin mati sambil memeluk Bijbel.

Bung Hatta ketika berkomentar tentang sifat Amir Syarifuddin ini mengatakan, “Memang Amir adalah salah seorang pemimpin yang sulit saya analisa sifat-sifatnya. Bagaimana orang semacam itu dianalisa, saya tidak tahu. Terserah kepada psikolog atau ahli ilmu jiwa”.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.