Ketika mengawasi anak beraktifitas di internet, yang paling penting adalah kualitasnya bukan kuantitasnya. Jadi memang sebaiknya tidak setiap waktu seorang anak harus dipelototi terus menerus saat dia beraktivitas di internet. Yang paling penting memang memberikan keleluasaan anak untuk melakukan eksplorasi di internet, sembari kita wajib meluangkan waktu jika suatu saat mereka dirasa perlu kita dampingi.

Batas ‘perlu’ di sini memang tidak ada patokan yang baku, karena tiap anak maupun keluarga memiliki keunikan sendiri. Disini justru orang tua yang dapat melakukan self-exercise, menentukan sendiri batasan-batasan kapan seorang anak perlu diawasi dan didampingi secara fisik ataupun cukup dipantau saja sesekali. Intinya adalah pada komunikasi antara anak dengan orang tua.

Sensitif terhadap perubahan perilaku anak, khususnya setelah dia getol berinternet, bisa menjadi semacam early warning bagi orang tua. Kadang kala karena kesibukan orangtua, biar kata alarm peringatan disini sudah meraung-raung, tidak segera diambil tindakan yang perlu. Pun acapkali kita menjadi lengah, ketika berbagai teknologi ‘pengaman’ sudah dibenamkan di infastruktur yang dipakai anak mengakses internet.

Program ataupun layanan pemblokiran (filter) dan pengawasan (surveilance) hanyalah alat bantu untuk memahami apakah ‘sesuatu’ yang tidak baik atau layak sedang mengincar anak kita. Selebihnya adalah bagaimana kepekaan dan kemampuan orang tua memaknai ‘sesuatu’ tersebut.

Nah, praktisnya cobalah sesekali ajak anak berdiskusi, tanyakan apa saja yang dibuka dan dilakukannya di web. Tak ada salahnya juga, sesekali pantau history browsernya, apa saja yang dibuka atau tanpa sengaja telah dibukanya. Jika memang dirasa perlu betul, barulah pasang parental software sebagai alat bantu.

Apapun temuan yang meresahkan kita, jangan lekas panik dan langsung melarang anak berinternet. Karena justru sikap seperti itu akan fatal akibatnya. Komunikasikan dan carilah solusi yang terbaik bagi semua pihak.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.