Tiga_Serangkai_International_PT

Siti Aminah (71 tahun), tidak pernah membayangkan dirinya bisa mempimpin bisnis yang kini menaungi sembilan perusahaan di bawah bendera Tiga Serangkai Group dan PT Tiga Serangkai Inti Corpora.

Bersama mendiang suaminya, Abdullah Marzuki, beliau mulai merintis usahanya di tahun 1959.

Aminah dan Abdullah semula adalah guru sekolah dasar. Bermula dari keprihatinan atas minimnya akses para siswa di daerah terpencil terhadap buku pelajaran, keduanya kemudian nekat membuat buku dan menerbitkannya sendiri.

Abdullah diam-diam memiliki bakat bisnis, sedangkan Aminah adalah pembelajar yang cepat menyerap strategi sederhana (tetapi efektif) sang suami dalam mengembangkan usahanya. Awalnya, keduanya mengambil buku-buku dari sebuah toko buku di Solo (Toko Buku Tiga), untuk dijual kembali di warung rumah mereka di Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.

Buku-buku pelajaran dijual bersama dengan hasil bumi yang dijual Aminah di warungnya. Buku-buku itu laris dibeli oleh para guru karena warung mereka berdekatan dengan Kantor Pemeriksaaan Sekolah Kecamatan Wuryantoro.

Tidak berhenti sampai di sini, Abdullah yang prihatin dengan sistematika penulisan buku yang tidak praktis, terdorong menyusun buku sendiri. Isinya adalah intisari pelajaran yang dipadukan dengan tren soal ujian dari tahun ke tahun yang ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna siswa.

Buku yang disusun Abdullah kemudian diberi judul Himpunan Pengetahuan Umum (HPU) dan Himpunan Pengetahuan Alam (HPA). Buku ini dicetak stensil di percetakan yang dimiliki oleh pemilik Toko Buku Tiga, Wie Sang Hien, lalu diberi cap “Tiga Serangkai” (TS). Buku terbitan perdana ini juga laris manis dibeli guru, bahkan orang tua murid.

Untuk pemasaran yang lebih luas, digunakan strategi yang sederhana. Keduanya yang mulai dibantu oleh beberapa orang karyawan, mengirimkan selebaran dan sampel buku melalui pos ke semua sekolah dasar (SD) negeri 1 yang ada di tiap kecamatan di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Strategi yang dilandasi logika sederhana, bahwa di tiap kecamatan hampir pasti terdapat SD Negeri 1.

Ini terbukti sukses dengan membanjirnya pesanan. Langkah ini juga diterapkan untuk merambah pasar Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Dari Wuryantoro, usaha “Tiga Serangkai” berpindah ke Sukoharjo, lalu ke Solo, agar mudah diakses pelanggan dan cepat mengikuti perkembangan di bidang penerbitan. Keduanya kemudian mampu membeli alat cetak pertama. Abdullah pun memutuskan pensiun sebagai guru untuk mencurahkan waktu sepenuhnya pada usaha penerbitan dan percetakan buku.

Seiring dengan menanjaknya popularitas buku-buku “Tiga Serangkai” di tahun 1970-an, usaha Aminah dan Abdullah juga semakin maju. Namun, ini bukan tanpa kendala. Sistem dagang sederhana dengan pemberian rabat 20-30 persen kepada grosir dan toko buku menemui tantangan saat merebak sistem penjualan langsung ke sekolah. Perlahan-lahan toko buku itupun menemui kematiannya.

Aminah terbiasa mengikuti sang suami pergi ke kantor sejak pagi. Ia pun tak asing dengan detail kegiatan sang suami, termasuk filosofinya dalam berusaha. Ini ternyata berhikmah pada lancarnya pergantian tongkat estafet kepemimpinan setelah Abdullah meninggal dunia tahun 1990 karena jantung koroner.

Ketegaran Aminah, ditambah dengan intuisi dan inovasi bisnis yang sebagian terbentuk saat bersama sang suami membesarkan usaha, membuatnya cepat beradabtasi dan mampu tetap mengibarkan bendera “Tiga Serangkai”.

Perpindahan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi kedua pun berlangsung relatif lancar kepada anaknya Eny Rahma Zaenah dan menantunya, Syarifuddin Noor.

Tiga Serangkai Group kini membawahi tujuh perusahaan yang bergerak di bidang distribusi, ritel serta percetakan dan penerbitan, seperti buku pelajaran, buku umum, tas kertas untuk ekspor, Al-Qur’an, dan buku-buku hard cover. Grup ini juga merambah bidang lain dalam bentuk afiliasi, seperti bengkel, pondok pesantren, akademi seni dan desain, sekolah dari tingkat TK-SMA, hingga periklanan.

sumber kompas

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.