Salah satu aspek kehidupan Rasulullah SAW yang kurang mendapat perhatian serius adalah kepemimpinan beliau di bidang bisnis dan entrepreneurship .  Padahal, sebagian besar kehidupan  beliau sebelum jadi utusan Allah SWT adalah sebagai seorang pedagang / pengusaha.

Muhammad SAW telah merintis karir dagangnya ketika berusia 12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Muhammad SAW menjadi seorang pedagang/pengusaha selama kurang lebih 25 tahun, angka ini lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung kurang lebih 23 tahun.

Muhammad SAW merupakan figur yang tepat dijadikan sebagai teladan dalam bisnis dan perilaku ekonomi yang baik. Beliau tidak hanya memberikan tuntunan dan pengarahan tentang bagaimana kegiatan ekonomi dilaksanakan, tetapi beliau mengalami sendiri menjadi seorang pelaku ekonomi dengan menjadi pengelola bisnis dan wirausaha.

Muhammad SAW mempunyai pengalaman yang pahit dengan terlahir menjadi anak yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, meninggal ketika Muhammad SAW masih dalam kandungan ibunya. Setelah itu Muhammad kecil menjadi yatim-piatu saat berusia 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib  dan, setelah wafat,  dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib. Sayangnya Abu Thalib adalah seseorang yang sangat sederhana hidupnya, sehingga tidak jarang Muhammad kecil harus membantu ekonomi keluarga sang paman dengan bekerja “serabutan” kepada penduduk Makkah. Pengalaman masa kecil seperti inilah yang menjadi modal psikologis beliau ketika menjadi seorang wirausahawan di kemudian hari.

Karir bisnis Muhammad SAW dimulai ketika beliau ikut pamannya berdagang ke Syria. Waktu itu beliau masih berumur 12 tahun. Menjelang usia dewasa beliau memutuskan perdagangan sebagai karirnya.

Ketika merintis karirnya tersebut, beliau memulai dengan berdagang kecil-kecilan di kota Makkah. Beliau membeli barang-barang dari satu pasar, kemudian menjualnya kepada orang lain. Sampai kemudian beliau menerima modal dari para investor dan juga para janda kaya dan anak-anak yatim yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka. Beliau menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki berdasarkan kerjasama Mudharabah.

Dalam melaksanakan bisnisnya tersebut, beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan memegang  janji , dan sifat-sifat mulia lainnya. Akibatnya penduduk Makkah mengenal Muhammad SAW sebagai orang yang terpercaya (al-amin). Para pemilik modal di Makkah waktu itu semakin banyak yang membuka peluang kemitraan dengan Muhammad SAW. Salah satu pemilik modal tersebut adalah Siti Khadijah, yang menawarkan kemitraan berdasarkan mudharabah (bagi hasil). Dalam hal ini, Khadijah bertindak sebagai pemodal (shahibul mal) dan Muhammad SAW sebagai pengelola (mudharib). Belakangan, Muhammad SAW menikah dengan Khadijah dan menjalankan bisnis bersama.

Wilayah perdagangan Muhammad SAW meliputi Yaman, Syria, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain, dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab lainnya. Menurut satu riwayat, sebelum menikah, Muhammad SAW menjadi manajer perdagangan Khadijah ke pusat perdagangan Habashah di Yaman. Muhammad SAW juga 4 kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash di Yordania.

Beliau juga tercatat pernah menjejakkan kaki ke Bahrain, sebelah timur semenanjung Arab. Dalam satu riwayat Imam Ahmad diceritakan bahwa beliau pernah bertemu dengan pemimpin salah satu kabilah di Bahrain, Al-Ashajj. Kemudian beliau menanyakan kepada Al-Ashajj  berbagai hal tentang orang-orang terkemuka dan kota-kota perdagangan di Bahrain seperti Safa, Mushaqqar, dan Hijar. Pemimpin kabilah tersebut sangat terkejut atas luasnya wawasan geografis dan sentra-sentra komersial yang diketahui oleh Muhammad SAW.

Al-Ashajj kemudian berkata, “Sungguh, anda lebih tahu tentang negeri saya daripada saya sendiri. Anda juga lebih banyak mengenal kota-kota di negeri saya daripada yang saya ketahui”.  Muhammad SAW menjawab,  “saya telah mendapat kesempatan untuk menjelajah negeri  Anda dan saya telah diperlakukan dengan baik.

Sebuah riwayat lain menceritakan bahwa Rabi bin Badr pernah melakukan kerjasama dagang dengan Muhammad SAW. Hingga suatu ketika mereka bertemu kembali, Muhammad SAW menanyakan, “apakah engkau mengenaliku?” , Ia menjawab, “kau pernah menjadi mitra ku dan mitra yang paling baik pula. Engkau tidak pernah menipuku dan tidak pernah berselisih dengan ku”.

Dengan demikian, di usia muda Muhammad SAW sudah menjadi pedagang regional karena daerah perdagangannya meliputi hampir seluruh Jazirah Arab.

 

Bisnis Setelah Menikah

Setelah menikah, Muhammad SAW tetap terlibat dalam bidang perdagangan seperti kebanyakan penduduk Makkah lainnya. Tiga dari perdagangan beliau yang sempat diberitakan adalah perjalanan dagang ke Yaman, Najd, dan, Najran. Di samping melakukan perjalanan dagang ke kota-kota di negara lain, beliau juga terlibat dalam urusan dagang selama musim haji, misalnya di pasar Ukaz dan Dzul Majaz. Selain itu beliau juga sibuk mengurus perdagangan grosir di kota Makkah.

Ketika beliau telah menikah dengan Siti Khadijah dan terus mengelola perdagangannya, maka kemudian status beliau naik menjadi “business owner”. Ketika usia beliau menginjak pertengahan 30-an, beliau mulai menjadi seorang investor dan mulai memiliki banyak waktu untuk memikirkan kondisi masyarakat. Pada saat itu beliau sudah mencapai apa yang diistilahkan oleh Robert Kiyosaky sebagai seseorang yang telah memiliki kebebasan finansial (financial freedom).

Kemudian beliau mulai sering menyendiri (uzlah) ke gua hira. Hal ini terus beliau lakukan sampai kemudian mendapatkan wahyu pertama. Sejak itulah Muhammad SAW memulai periode baru dalam hidupnya sebagai seorang utusan Allah SWT.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.