This domain has recently been listed in the marketplace. Please click here to inquire.

spamcheckr.com

Kisah Unik, Umum

Awas! Lowongan Kerja Palsu

images

Salah satu manfaat dari media online yang saat ini banyak digunakan masyarakat adalah untuk memperoleh informasi lowongan pekerjaan. Portal-portal yang mengkhususkan diri untuk para pencari kerja pun kini mulai bermunculan. Mulai dari yang dikelola secara profesional seperti jobstreet, jobsdb, jobindo, dll. Sampai kepada blog-blog sederhana yang dikelola oleh perorangan.  Bahkan beberapa situs yang terkenal sebagai portal jual-beli online seperti berniaga dan tokobagus, juga ikut menyediakan sebuah kategori khusus untuk informasi lowongan pekerjaan.

Namun yang perlu diwaspadai oleh para pencari kerja melalui media online adalah tidak semua informasi lowongan pekerjaan yang tersedia dalam situs-situs tersebut benar dan dapat dipercaya. Berdasarkan pengalaman saya yang sejak tahun 2007 (ketika lulus SMA) mulai mencari-cari pekerjaan melalui media online, banyak perusahaan “abal-abal” yang juga memasang iklannya di berbagai situs pencari kerja. Mereka ini berkedok sebagai perusahaan yang menawarkan berbagai posisi pekerjaan, mereka berbeda dengan perusahaan penyalur kerja atau outsourching. Kalau di perusahaan outsourching, pekerjaan yang dijanjikan benar-benar tersedia (walaupun mungkin kita akan dikenai biaya di awal ataupun dengan sistem potong gaji). Sedangkan perusahaan “abal-abal” ini hanya meminta uang (dengan berbagai alasan), namun pekerjaan yang dijanjikan tidak ada atau tidak sesuai (detailnya mengenai ini akan saya ceritakan di bawah nanti).

Oia, kenapa saya membuat postingan ini? karena beberapa hari yang lalu saya menerima email newsletter dari jobstreet yang memberikan peringatan kepada membernya untuk waspada, begini tertulis judul emailnya: “WASPADA PENIPUAN! HATI-HATI PERUSAHAAN FIKTIF”. Dalam email tersebut, pihak jobstreet membagikan sedikit tips agar para pencari kerja tidak tertipu oleh perusahaan fiktif. Berikut ini saya bagikan tips dari jobstreet untuk menghindari penipuan dari perusahaan fiktif:

1. Kredibilitas Perusahaan

Hal ini dapat dilihat dari informasi yang disampaikan pada saat mengundang interview, misalnya jika undangan dikirimkan via email maka HRD akan menggunakan email perusahaan, jika menggunakan telepon pastikan pihak HRD menggunakan telepon kantor.

Tambahan dari saya: Untuk memeriksa kredibilitas sebuah perusahaan, ada baiknya mengecek segala sesuatunya mengenai perusahaan tersebut melalui google. Anda cukup copy-paste nama perusahaannya dan klik search, nanti biasanya akan tersedia banyak informasi mengenai perusahaan yang bersangkutan.

2. Posisi yang ditawarkan

Jangan sampai Anda membuang waktu Anda untuk datang ke sebuah interview yang berujung menawarkan multi level marketing atau tidak sesuai dengan iklan lowongan yang dipasang.

Tambahan dari saya: Waspadai iklan lowongan pekerjaan yang menawarkan banyak posisi, terlebih bila posisi tersebut tidak saling berhubungan dengan profil perusahaan.

3. Pungutan Biaya

Modus penipuan yang saat ini sering digunakan oleh pihak ‘perusahaan’ adalah memungut biaya dengan alasan pelatihan ataupun alasan lainnya, jika memang hal ini terjadi sangat disarankan Anda segera melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib.

HAMPIR TERTIPU

Seperti yang sudah saya janjikan di atas, saya akan menceritakan detail mengenai modus penipuan perusahaan “abal-abal” ini berdasarkan pengalaman saya pribadi yang hampir saja tertipu dan juga berdasarkan pengalaman teman saya yang sudah tertipu.

Lulus SMA di tahun 2007, saya tidak langsung melanjutkan kuliah, saya memutuskan untuk bekerja dahulu selama satu tahun hingga tahun 2008. Berbagai media saya manfaatkan untuk memperoleh informasi mengenai lowongan pekerjaan, mulai dari lisan sesama teman, koran, jobfair, hingga media online. Melalui media online inilah, saya yang waktu itu masih sangat lugu dan buta terhadap dunia kerja, terperangkap oleh jebakan perusahaan fiktif ini. Saya lupa melalui situs apa saat itu mendapatkan informasi, yang pasti dalam iklan tersebut tertulis nama perusahaan PT Global Indonesia, posisi yang dibuka saat itu adalah Data Entry dan Staf Administrasi. Lamaran bisa dikirim via email ataupun melalui SMS dengan mengirim biodata lengkap. Karena saat itu saya berpikir lewat SMS lebih singkat dan mudah, maka tanpa pikir panjang saya langsung mengirim biodata lengkap ke nomor yang tertera dalam iklan tersebut.

(pesan saya: jangan percaya dengan iklan lowongan pekerjaan yang memberikan opsi lamaran melalui SMS, karena perusahaan bonafit belum pernah saya temukan melakukan proses rekrutmen melalui SMS).

Setelah mengirim biodata lengkap via SMS, saya pikir akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan balasan. Ternyata dugaan saya salah, hanya dalam waktu beberapa jam, saya mendapatkan SMS balasan, isinya kurang lebih seperti ini: “Selamat siang, Biodata anda telah kami terima, selanjutnya anda berhak untuk mengikuti proses seleksi dan wawancara di kantor kami… bla..bla..bla.. lengkap dengan alamat dan waktunya.

Saya menyambut sms tersebut dengan perasaan gembira sambil mempersiapkan segala dokumen yang diminta, belum ada rasa curiga sama sekali saat itu. Sampai keesokan harinya saya berangkat ke alamat yang telah diberikan, tepatnya di kawasan melawai-blok m. Sampai di kawasan melawai, saya agak kesulitan menemukan lokasi kantor yang dimaksud. Hingga saya bertanya kepada satpam sebuah bank yang berada di sekitar melawai. Saat saya bertanya “pak, PT Global Indonesia disebelah mana ya?”, satpam itu malah ikut-ikutan bingung, “hah, Global Indonesia? sebelah mana ya?, tapi gak berapa lama satpam itu seperti dapat ilham, “oh, barangkali yang disebrang jalan sana mas, ada namanya PT Mitra Utama Global”. Setelah berterima kasih, saya lanjut melangkah ke arah gedung yang dimaksud. Benar saja, saya temukan papan menempel di dinding dengan tulisan PT Mitra Utama Global. Saya sempat ragu, bukan hanya tulisannya yang membuat saya ragu, tapi keadaan gedung itu juga membuat saya berpikir, “apa iya ini kantornya?” bukan apa-apa, keadaan gedung itu agak kurang layak kalau disebut kantor, kumuh dan letaknya berada di lantai atas, naiknya melalui gang sempit yang terdapat tangga naik di sebelah gedung itu.

Tapi yasudah lah, saya akhirnya naik ke atas dan menjumpai mbak-mbak yang sedang duduk di balik sebuah meja kecil (kalo di kantor-kantor lain, mungkin ini yang disebut sebagai resepsionis). Tapi menurut saya, yang di sana itu lebih mirip ibu-ibu yang sedang jaga di posyandu, hanya dengan meja kayu kecil yang diatasnya terdapat taplak. Setelah mejelaskan keperluan saya, bla..bla..bla.. intinya benar, inilah kantor yang saya cari. Saya kemudian disuruh duduk untuk menunggu giliran di interview, sambil duduk itulah saya mencermati keadaan sekitar, jujur rasa curiga saya sudah mulai muncul, dalam batin saya bertanya “masa iya kantor keadaannya begini amat”.

Beberapa saat kemudian tibalah giliran saya dipanggil untuk masuk ke dalam, dannn.. deng..deng.. inilah puncak kegelisahan saya.. Di dalam ruangan itu saya lihat nggak ada aktivitas kantor sebagaimana umumnya, isinya hanya penuh dengan orang di interview semua. Sambil berjalan menuju meja yang ditunjuk, saya mencoba untuk tetap tenang. Tiba kini saat saya berhadapan dengan mbak-mbak yang akan mewawancarai saya (saya lupa namanya). Awalnya masih berjalan normal seperti lazimnya orang HRD mewawancarai calon karyawan, tapi lama-kelamaan saya mulai berasa aneh, keadaan saat itu lebih mirip sebuah presentasi perusahaan ketimbang sebuah wawancara. Lazimnya sebuah wawancara kerja, biasanya kan calon karyawan banyak dihujani berbagai pertanyaan, tapi ini malah dia yang banyak ngoceh tetang perusahaan itu. Sambil menunggu-nunggu, dalam hati saya bilang “kapan saya dikasih pertanyaan ini?”.

Setelah beberapa lama mbak-mbak itu ngoceh, bukannya pertanyaan yang saya dapat, malah saya disodorkan sebuah persyaratan yang mengharuskan saya membayar sebesar 560 ribu rupiah untuk bisa bekerja di sana, saya agak lupa detailnya untuk apa duit itu akan digunakan, tapi kalau tidak salah menurut mbak-mbak itu untuk biaya pelatihan (diklat), seragam, dll. Di sinilah mood saya sudah hilang, saya sudah berpikir bahwa ini pasti perusahaan nggak bener. Saya jawab saja dengan jujur bahwa saya tidak punya uang sebesar itu. Tapi dengan nada agak sedikit memaksa, mbak-mbak itu bilang, “kalau begitu mas-nya sekarang ada duit berapa? dibayar saja dulu seadanya, nanti sisanya bisa menyusul kemudian”. Saya bertambah males disini, pikir saya: “ini mau ngelamar pekerjaan atau mau daftar sekolah sih, kok pake uang muka dan bisa dicicil segala”. Saya tetep bilang bahwa saya tidak punya uang sebesar itu.

Dengan nada sedikit kecewa, mbak-mbak itu kemudian bilang, “ya sudah, kalau gitu mas bayar biaya formulirnya saja dulu sebesar 20rb, agar posisi mas tidak tergantikan oleh orang lain”. Karena udah sedikit kesal dan tidak mau berlama-lama, saya penuhi saja permintaan mbak-mbak itu, saya kasih dia uang 20rb. Lalu dia bilang bahwa nanti saya akan dihubungi kembali, saya jawab iya-iya saja, karena saya udah bener-bener nggak betah saat itu. Saya langsung cabut keluar dan pulang.

Beberapa hari setelah kejadian itu, saya telpon-telponan dengan seorang teman SMA yang ternyata dia udah lebih dahulu kena tipu oleh perusahaan itu (namun beda lokasi, oia perusahaan “abal-abal” ini udah banyak cabangnya, biasanya dia nyewa gedung-gedung jelek yang murah, jadi HATI-HATI ya!!). Tapi parahnya, temen saya ini bener-bener bayar uang yang diminta sebesar 560 ribu itu dan dia sudah sempat bergabung dengan mereka.

Dari pengakuan teman saya ini, di perusahaan “abal-abal” itu pekerjaan sehari-harinya memang hanya mewawancarai calon “korban”, tidak ada gaji dalam perusahaan palsu itu, yang ada hanya sedikit komisi dari jumlah uang yang berhasil kita dapat dari “korban” yang diwawancarai (sebagian besar untuk perusahaan atau entah untuk siapa). Kalau tidak berhasil, maka kita juga nggak akan dapet penghasilan sama sekali. Dari sini barulah saya paham kenapa mbak-mbak yang mewawancarai saya begitu ngotot agar saya bersedia membayar sejumlah uang yang diminta.

Perusahaan palsu ini sudah banyak cabangnya, mereka rajin sekali iklan di media-media online, khususnya yang gratisan. Mereka tidak selalu, bahkan nyaris nggak pernah menggunakan nama aslinya, akan tetapi sering menyatut nama perusahaan lain. Biasanya yang membuka lowongan dengan banyak posisi tapi tidak saling terkait. Kalangan yang mereka incar biasanya para pelajar ataupun mahasiswa yang baru lulus, dan belum punya pengalaman sama sekali dalam dunia kerja. Jadi, buat kawan-kawan yang sedang mencari pekerjaan melalui media online atapun media-media lainnya, harap lebih cermat dan berhati-hati lagi ya, pokoknya kalo udah dimintain duit duluan, jangan pernah mau, tinggalin aja. Atau lebih baiknya, begitu ada panggilan wawancara atau tes, sebelum berangkat coba googling dulu aja ya, cari tahu tentang profil perusahaan yang bersangkutan.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.

1 Comment

  1. Unknown

    Dari semua cerita di atas, persis sama seperti yang saya alami, dari bayar dp 20 rb dan nggak jadi lunasin setelah googling dan mendapat informasi dari korban yang sudah tertipu pt abal2 tersebut.
    Awal januari lalu saya mendapatkan iklannya dari tokobagus.com.

Leave a Reply to Cancel reply

Theme by Anders Norén