Bangsa Indonesia diprediksikan oleh banyak pihak akan memperoleh sebuah anugerah yang dinamakan “Bonus Demografi” pada tahun 2020-2030, dimana jumlah usia produktif (usia angkatan kerja) yaitu antara usia 15 sampai 65 Tahun, berjumlah 70% dari total jumlah penduduk, sisanya 30% merupakan kelompok usia tidak produktif.

Menurut data statistik Katadata.co.id, jumlah penduduk Indonesia sampai tahun 2016 lalu, sudah mencapai 258 juta orang. Dimana dari jumlah tersebut sudah mulai didominasi oleh penduduk usia produktif yakni antara usia 15-34 tahun.

Jumlah tersebut akan terus meningkat sampai 2035 dimana BPS memproyeksikan total jumlah penduduk di Indonesia akan mencapai sekitar 300 juta jiwa.

Statitistik Indonesia untuk Rasio Ketergantungan, yakni perbandingan usia produktif dan tidak produktif, terus mengalami tren penurunan sejak tahun 1971 hingga 2016.

Klik pada gambar untuk menuju halaman statistik

Klik pada gambar untuk menuju halaman statistik

Berdasarkan statistik di atas, disebutkan bahwa pada tahun 1971 Indonesia memiliki rasio ketergantungan di angka 86,8. Angka tersebut terus menurun sampai di tahun 2016 yang hanya mencapai angka  48,4, yang artinya jumlah usia produktif (yang akan menanggung hidup dari usia tidak produktif) jauh lebih banyak.

Lalu bagaimana agar bonus demografi ini dapat kita manfaatkan menjadi motor pendorong dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Pemerintah harus mulai mempersiapkan berbagai hal sejak saat ini, khususnya mulai menguatkan investasi di berbagai sektor yang mampu meningkatkan kualitas penduduk usia produktif tadi. Di antaranya adalah kesehatan, pendidikan, dan ketenagakerjaan.

Kesehatan, kualitas gizi menjadi hal dasar yang wajib dipenuhi pemerintah agar mampu mencetak generasi-generasi masa depan yang cerdas, sehingga pada saatnya nanti mereka dapat memiliki daya saing yang tinggi di dunia kerja maupun usaha.

Pendidikan, jaminan pendidikan yang berkualitas juga wajib dipenuhi agar penduduk usia produktif ini memiliki nilai jual yang tinggi. Tidak lagi dipandang sebagai tenaga kerja berpendidikan rendah yang bisa dibayar murah.

Jika penghasilan mereka tinggi, dan tanggungan dalam keluarga sedikit, maka tabungan mereka akan terus meningkat. Hingga berimbas juga pada pendapatan negara.

Ketersediaan lapangan pekerjaan juga harus dijamin oleh pemerintah, agar melimpahnya jumlah usia produktif ini tidak malah menjadi beban bagi negara.

Selain menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan, pemerintah juga mesti membuat kebijakan yang merangsang bertumbuhnya semangat kewirausahaan di kalangan usia produktif ini. Yang nantinya mampu melahirkan pengusaha-pengusaha baru yang juga akan menciptakan banyak lapangan kerja baru. Hingga pada akhirnya mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Salah satu sektor penting yang akan menjadi masa depan Indonesia adalah Ekonomi Kreatif. Pada pemerintahan Bapak Presiden Joko Widodo saat ini, sudah dibentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang diketuai oleh Bapak Triawan Munaf. Badan ini sangat positif untuk menampung/memfailitasi para pemuda dengan usia produktif agar mampu berkarya dan berusaha sesuai dengan bidang, minat, dan bakat yang mereka miliki.

Dampak dari ekonomi kreatif sebenarnya sudah sangat kita rasakan saat ini. Bermunculannya startup baru di bidang transportasi, retail, ecommerce, sektor jasa, dll sudah sangat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.

Berdasarkan artikel di katadata.co.id (http://katadata.co.id/berita/2017/04/05/konsumen-indonesia-paling-gemar-belanja-bulanan-di-toko-online), dari 500 konsumen online di Indonesia, 36 persen di antaranya telah berbelanja bulanan melalui internet.

Kebiasaan berbelanja secara online di Indonesia ini lebih tinggi dibadingkan negara tetangga, Singapura dan Vietnam dengan 34 persen, dan Thailand 33 persen.

Tranportasi online yang banyak muncul juga menjadi tren baru bagi masyarakat, baik yang memanfaatkannya sebagai konsumen, maupun yang menjadikannya sebagai lapangan kerja baru untuk menghasilkan pendapatan.

Disinilah peran pemerintah, khususnya melalui badan ekonomi kreatif, sangat dibutuhkan. Terutama untuk mengawal, mendampingi, dan memfasilitasi generasi muda usia produktif yang jumlahnya sangat banyak ini agar mampu mengembangkan ide-ide kreatif mereka untuk menghasilkan sebuah karya yang mempunyai dampak positif di tengah masyarakat, yang pada saatnya nanti mampu menjadi motor utama penggerak perekonomian Indonesia.

Di sektor UMKM, katadata mengabarkan bahwa pemerintah menargetkan hingga tahun 2020 sebanyak 8 juta UMKM dapat merambah dunia online, melalui gerakan domain dan hosting gratis. (http://katadata.co.id/berita/2017/03/31/pemerintah-targetkan-8-juta-umkm-merambah-dunia-maya-pada-2020)

Program ini akan mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak, bagi pelaku UMKM jelas ini akan membantu untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih luas lagi, apalagi diprediksi pengguna internet aktif di Indonesia hingga tahun 2020 bisa mencapai angka 136 juta.

Merambahnya UMKM ke dunia online, juga akan memudahkan konsumen dalam menemukan barang/jasa yang dicari, serta menciptakan banyaknya alternatif pilihan.

Berbagai usaha untuk memanfaatkan potensi bonus demografi di atas, masih harus dibarengi dengan kebijakan-kebijakan pendukung lainnya. Diantaranya adalah program Keluarga Berencana (KB) untuk menekan angka kelahiran baru di Indonesia. Agar jumlah usia tidak produktif (tertanggung) tidak tambah meningkat. Karena hal tersebut dapat mempertipis manfaat yang akan kita dapatkan dari bonus demografi.

Kita bisa belajar dari pengalaman Jepang dan Korea Selatan, yang telah berhasil menekan jumlah angka kelahiran penduduknya, dan berhasil mengelola bonus demografi dengan sangat baik, hingga akhirnya kedua negara tersebut bertransformasi menjadi sebuah negara maju.

Pemanfaatan bonus demografi Indonesia secara maksimal, diharapkan mampu mendongkrak peningkatan perekonomian Indonesia di masa yang akan datang.

Data statistik yang dikutip dari Lembaga audit dan konsultan ekonomi PricewaterhouseCoopers (PWC) memprediksi bahwa Ekonomi Indonesia bisa mencapai peringkat 5 dunia di tahun 2030 dan mengungguli ekonomi Rusia maupun Jerman.

Klik pada gambar untuk menuju halaman statistik

Klik pada gambar untuk menuju halaman statistik

Sementara presiden Joko Widodo, seperti yang dikutip oleh katadata.co.id (http://katadata.co.id/berita/2017/03/27/jokowi-ekonomi-indonesia-bakal-jadi-terbesar-keempat-dunia-pada-2045), mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-empat pada tahun 2045, yaitu saat Indonesia berumur 100 tahun.

Dikatakan presiden bahwa Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa mencapai US$ 9,1 triliun di tahun 2045. Adapun tahun 2016 lalu, PDB Indonesia sudah mencapai US$ 932 miliar.

Presiden juga optimistis bahwa di tahun 2045 tersebut, dimana jumlah penduduk indonesia sudah mencapai 309 juta jiwa, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa stabil di angka 5-6 % per tahun.

Klik pada gambar untuk menuju halaman statistik

Klik pada gambar untuk menuju halaman statistik

Tahun 2016 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5,02%. Diprediksikan akan mengalami kenaikan pada tahun 2017 ini di angka 5,1%. Dan Presiden Jokowi menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus meningkat di tahun 2018 di angka 6,1%.

Semoga berkah bonus demografi ini dapat mewujudkan impian Bapak Presiden Jokowi, bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-empat di dunia pada tahun 2045, dimana para generasi muda saat inilah yang kelak akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Bangsa.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.