lomba blog pusaka indonesia 2013

Ada sebuah ungkapan yang populer di dalam masyarakat Indonesia, “tamu adalah raja”. Ya, kita memang mesti menghormati setiap tamu yang datang dan masuk ke dalam rumah kita, mulai dari mempersilahkan duduk, memberi makan dan minum, menyediakan kamar apabila ingin menginap, dan lain sebagainya. Tapi satu hal yang perlu kita ingat, kita boleh saja menganggap setiap tamu yang masuk itu sebagai raja, akan tetapi tamu itu tetap harus menghormati dan mengikuti nilai-nilai atau norma yang berlaku di dalam rumah kita, mereka tidak bisa se’enaknya dalam bertindak atau berperilaku. Intinya adalah bagaimana kita tetap menjadi tuan rumah yang berwibawa di dalam rumah sendiri dengan memegang teguh prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup yang ada dalam keluarga kita, tanpa mengurangi rasa hormat dan respek terhadap tamu kita.

Analogi di atas saya rasa tepat kalau dihubungkan dengan keadaan dunia kita saat ini, kita (Bangsa Indonesia) merupakan bagian dari masyarakat dunia yang mau tidak mau, suka tidak suka, siap atau tidak siap pasti akan atau telah berhadapan dengan arus globalisasi yang masuk ke dalam negeri melalui berbagai macam sarana, seperti seni dan kebudayaan, perdagangan, dan juga melaui media teknologi informasi dan sosial seperti internet.

Dalam sebuah era keterbukaan seperti saat ini, ketika semua orang bisa dan berhak mengakses berbagai macam informasi, tentu kita tidak akan bisa melarang ataupun menahan setiap hal yang akan masuk ke dalam negeri ini, kita juga tidak bisa asal menentukan bahwa semua hal yang berasal dari luar itu buruk atau negatif. Lantas bagaimanakah sikap kita?

Seperti dalam analogi yang telah saya jabarkan sebelumnya, kita harus menjadi tuan rumah yang berwibawa, dengan cara:

Pertama, penguatan jati diri dan identitas kita sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat dengan tetap memegang teguh nilai-nilai atau prinsip hidup kita, apa itu? PANCASILA. Ya, kita tidak bisa lagi hanya menjadikan pancasila sebagai simbol atau benda suci yang dikeramatkan, atau hanya menjadikan pancasila sebagai teks bacaan yang wajib dibaca oleh para siswa setiap upacara bendera pada hari senin.

Lebih dari itu, kita harus mulai memikirkan, sebenarnya bagaimana implementasi dari kelima sila itu dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita tidak gamang ketika harus berhadapan dengan tamu-tamu kita yang membawa banyak pengaruh baru yang mungkin bersifat positif, namun juga bisa bersifat negatif.

Misalnya, sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, berlandaskan pada sila ini, kita harus bersikap, berperilaku, dan menunjukkan kepada dunia bahwa indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi keadilan, menjamin hak-hak warga negaranya dalam hal pendidikan, ibadah, kesehatan, hukum, dll. Serta bangsa ini adalah bangsa yang santun, terhormat, tidak main hakim sendiri, tidak mengeksekusi orang lain tanpa proses hukum, tidak mudah terprovokasi, dan mengutamakan adab seperti kejujuran, keadilan, dan sopan santun.

Kedua, melakukan penyaringan terhadap segala hal yang masuk dari luar. Apakah semua tamu yang datang berkunjung ke rumah kita, dengan membawa kebiasaan buruk yang bertentangan dengan kebiasaan kita, lalu kita perbolehkan begitu saja untuk tinggal dan menetap di rumah kita? pasti tidak kan, kita pasti akan menolak (walau mungkin dengan cara yang sangat halus) agar tamu tersebut segera pulang atau pergi dari rumah kita.

Memang berbagai macam hal yang masuk dari luar itu belum tentu seluruhnya negatif, pasti banyak juga yang mengandung nilai-nilai positif yang bisa kita terima untuk tetap berada di dalam negeri ini. Disinilah arti penting dalam sebuah proses penyaringan itu, yang baik boleh terus berada dan berkembang di negeri ini, tapi yang buruk, mohon maaf anda harus pergi jauh-jauh dari bangsa ini. Dengan berlandaskan apa? tetap dengan berlandaskan nilai-nilai luhur pancasila.

Misalnya, saat ini banyak perusahaan asing ramai-ramai ingin berinvestasi di Indonesia, dikarenakan iklim investasi yang kondusif, seperti pertumbuhan ekonomi yang di atas 6 %, situasi politik dan keamanan yang cenderung baik, dan faktor-faktor lainnya. Begitupun perusahan-perusahaan milik pribumi, mereka juga sedang gencar-gencarnya melakukan ekspansi usaha ke berbagai wilayah di Indonesia.

Akan tetapi yang perlu diingat oleh mereka adalah, kita memiliki dasar sila ke lima, yaitu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia“. Sehingga pihak asing maupun pribumi yang ingin berusaha di negeri ini tidak bisa sembarangan atau semena-mena dalam menguasai kekayaan ataupun sumber daya yang ada di Indonesia, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Untuk sumber daya manusia, mereka harus benar-benar memberdayakan tenaga kerjanya ataupun masyarakat sekitar tempat usaha agar memperoleh kesempatan untuk juga memperbaiki perekonomian keluarga dan hidupnya, misalnya dengan pemberian upah yang layak, atau memberikan pendidikan kemandirian bagi masyarakat sekitar melalui program CSR, sehingga benar-benar akan terwujud sebuah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Gempuran arus globalisasi yang terjadi paling masif saat ini adalah melalui teknolgi informasi atau internet dan sosial media. Apakah itu negatif? belum tentu, karena kalau boleh saya tarik sebuah analogi, internet itu seperti sebuah pisau. Baik atau buruk pisau itu tergantung dari kegunaannya, untuk apa pisau itu digunakan. Kalau untuk menodong atau merampok, jelas pisau itu akan mendapat cap negatif. Tapi kalau pisau itu digunakan untuk memotong daging atau ayam, kemudian daging itu dibuat sup dan kemudian dikirimkan ke rumah saya, saya bisa pastikan bahwa pisau itu 100% halal dan barokah.

Begitupun perkembangan teknologi informasi, banyak hal positif bahkan keuntungan yang bisa kita raih, tapi kalau tidak berhati-hati banyak juga hal-hal negatif yang siap menjebak kita dalam kerugian. Ketika gempuran budaya asing masuk melalui media-media di internet, kita harus memperkuat dan membentengi diri dengan sila ke-tiga yaitu “Persatuan Indonesia“.

Kita boleh-boleh saja menggemari atau mengidolakan karya seni dari negara lain, tapi hal itu jangan sampai melunturkan atau sampai melebihi kecintaan kita pada budaya dan karya seni bangsa sendiri, lebih jauh jangan sampai memecah belah kita sesama bangsa sendiri. Kita jangan sampai lupa, bahwa bangsa kita kaya akan khasanah budaya atau karya-karya seni dari berbagai daerah yang jauh lebih indah dan tidak kalah berkualitas.

Dengan memanfaatkan media sosial dan teknogi informasi ini, banyak juga putra-putri Indonesia yang sebelumnya tidak banyak mengenal potensi-potensi yang dimiliki oleh berbagai daerah di Indonesia, menjadi mengenal, mengetahui, dan lebih jauh ingin berkunjung dan mempelajari tentang daerah tersebut. Ini adalah contoh positif yang bisa kita manfaatkan dari media sosial dan teknologi informasi, bahkan kita bisa memasarkan pariwisata, memperkenalkan kekayaan budaya, dan mengundang wisatawan hingga ke seluruh penjuru dunia untuk datang dan mempelajari budaya kita dengan memanfaatkan media ini.

Pada akhirnya kita memang tidak mungkin untuk membendung arus globalisasi yang telah mengepung negara kita dari berbagai penjuru. Karena pada dasarnya, sejak zaman dahulu pun bangsa kita terkenal ramah dan welcome (menerima dengan baik) segala hal yang datang dari luar. Yang mungkin kita lakukan adalah memperkuat diri sendiri dengan sebuah karakter dan jati diri, serta dengan memilah-milah dan menyaring budaya asing yang masuk ke dalam negara Indonesia, agar kita mampu bersaing dan memenangkan persaingan global ini, sehingga kita bisa menjadi “Tuan Rumah di Negeri Sendiri Dengan Berlandaskan Pancasila”.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.