Di awal berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan dianggap menyimpang oleh banyak orang dan sering dijuluki sebagai Kiai Kafir, lantaran mendirikan Sekolahan Umum (yang dianggap berasal dari barat) dan merubah sistem Pendidikan Islam yang pada waktu itu identik dengan dunia Pesantren yang menggunakan metode pengajaran Sorogan, Bandongan atupun Wetonan (yaitu: Murid/Santri duduk melingkari Guru/Kiai yang duduk berada di tengah-tengahnya), menjadi sistem Klasikal Barat (yaitu: dengan menggunakan meja, kursi, dan papan tulis serta guru berdiri di depan untuk mengajar).

Pada masa itu, cara pengajaran tersebut masih dianggap asing bagi kalangan masyarakat santri, bahkan sering dikatakan sebagai Sekolah Kafir.

Hingga suatu saat KH. Ahmad Dahlan kedatangan tamu seorang Guru Ngaji dari Magelang, yang mengejeknya dengan sebutan kiai kafir dan kiai palsu karena mengajar dengan menggunakan alat-alat sekolah milik orang kafir.

Karena ejekan tersebut, Dahlan berkomentar,

” Maaf, Saudara, saya ingin bertanya dulu. Saudara dari Magelang ke sini tadi berjalan kaki kah atau memakai kereta api?”

“Pakai kereta api, Kiai” Jawab guru ngaji.

“Kalau begitu, nanti Saudara pulang sebaiknya dengan berjalan kaki saja”  Ujar Dahlan.

“Mengapa?” Tanya sang guru ngaji keheranan.

“Kalau Saudara naik kereta api, bukankah itu perkakasnya Orang Kafir?” Jawab Dahlan Telak.

“??????????????” sang guru ngaji terbengong-bengong.

Demikianlah cara KH. Ahmad Dahlan dalam memberikan penjelasan kepada orang-orang yang meremehkan dirinya.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.