Mohammad Hatta merupakan sosok yang serius, justru karena itulah ia menjadi lucu. Berikut ini adalah beberapa kisahnya:

Kisah yang pertama, terjadi ketika Hatta tengah bersiap mengikuti ujian doktoral bidang ekonomi di Rotterdam, Belanda tahun 1932. Suatu saat, dia menemui pembimbingnya, Profesor C.W. de Vries, untuk berkonsultasi sekaligus minta persetujuan ikut ujian. De Vries berpesan dan mewanti-mewanti Hatta harus membaca buku Allgemeine Staatslehre, karangan G. Jellinek. Di benak Hatta, segera terbayang buku yang lebih tebal dari bantal. Hatinya bertanya-tanya, “Dapatkah buku setebal itu aku pelajari dengan intensif tanpa  melalaikan buku-buku yang lain?”. 

Sesampai di rumah, Hatta langsung mencari buku mahatebal itu dan mempelajarinya dengan tekun. Selama empat bulan, setiap hari Hatta membaca buku tersebut. Buku-buku dan diktat lain hanya ia perhatikan sekadarnnya. Setiap hari Hatta juga menenggak tonikum supaya badan dan pikirannya kuat.

Empat bulan berlalu. Badan Hatta menjadi lesu dan otaknya tak sanggup lagi menerima pelajaran baru. Walaupun buku mahatebal itu sudah selesai dipelajarinya, Hatta justru tak mampu mengingat satu pun apa yang sudah dipelajarinya. Padahal waktu ujian tinggal dua minggu.

Akhirnya, Hatta memutuskan untuk berhenti belajar. Tiap hari Hatta hanya berjalan-jalan saja sambil tetap rutin menenggak tonikum. Dua hari sebelum ujian, Hatta kembali membolak-balik buku itu, dan.. Berhasil. Ia mengingat semua yang sudah ia pelajari selama empat bulan.

Sampai akhirnya, Hatta pun maju ujian doktoral pada Juni 1932. Namun tragisnya, TIDAK ADA SATU PUN soal ujian yang berasal dari buku mahatebal karangan G. Jellinek tersebut.

Kisah yang kedua, masih tentang pengalaman Hatta di luar negeri. Kali ini settingnya di Hamburg, Jerman tahun 1921.

Pada suatu malam, Hatta hendak menonton opera bersama tiga rekannya, Dr. Eichele, Dahlan Abdullah, dan Usman Idris. Sebelum menonton, mereka makan malam dulu di sebuah restoran.

Dahlan, Eichele, dan Usman memesan bir untuk minum. Entah karena mau mengirit atau memang tidak ingin menenggak bir, Hatta lantas memesan air es saja. Setelah selesai makan dan dihitung harganya, rupanya harga segelas air es lebih mahal dibandingkan dengan harga segelas bir. Habis Hatta ditertawai oleh ketiga rekannya.

Kisah yang ketiga, kali ini dari dalam negeri. Dan orang yang mengisahkannya adalah sahabat sejatinya, Soekarno.

Cara terbaik untuk melukiskan pribadi Hatta, kata Soekarno adalah dengan mengisahkan suatu kejadian di suatu sore. Yaitu ketika Hatta dalam perjalanan ke suatu tempat dengan menaiki sebuah bus, dan satu-satunya penumpang lain di bus itu selain Hatta adalah seorang gadis yang cantik.

Di suatu tempat yang sepi dan terasing, ban pecah. Si sopir terpaksa pergi untuk mencari bantuan, tinggalah Hatta berdua bersama gadis cantik itu di dalam bus. Setelah dua jam berlalu, bukannya keakraban yang terjadi di antara dua penumpang itu, sang sopir yang baru saja kembali dengan membawa bantuan malah mendapati gadis itu terbaring di sudut yang jauh di dalam bus, sedangkan Hatta tengah asik mendengkur di sudut yang lainnya.

Di kalangan teman-temannya, Hatta memang dikenal tak pernah menunjukkan ketertarikan pada perempuan. Suatu ketika di negeri Belanda, para sahabatnya yang penasaran menjebaknya. mereka mengatur agar Hatta bisa kencan dengan seorang gadis Polandia yang “menggetarkan lelaki mana pun”. Tentu saja, sang gadis telah dipesan agar menggoda Hatta dengan segala cara.

Apa yang terjadi? Malam itu setelah terjadi pertemuan antara mereka di sebuah kafe yang sangat romantis, ternyata mereka hanya makan malam, lalu berpisah begitu saja.

Ketika ditanya kenapa rayuannya gagal total, si gadis berkata dengan nada putus asa, “sama sekali tak mempan. Dia itu pendeta, bukan laki-laki”.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.