Pertamakebangsaan “cap intelek”, berpandangan bahwa seseorang mampu duduk di pemerintahan karena kecakapannya sendiri. Mereka berpendapat bahwa merekalah yang diprioritaskan untuk berkuasa.

Dikarenakan anggapan bahwa mereka telah mempunyai/menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan di segala bidang mereka masing-masing, yang mereka peroleh dari hasil belajar selama bertahun-tahun baik di dalam maupun di luar negeri.

Sehingga muncul pemikiran bahwa merekalah yang pantas dan berhak untuk jadi seorang pemimpin. Oleh karena itu, nasib rakyat dan urusan negeri biar diserahkan saja ke tangan kaum intelek tersebut.

Banyak dari kalangan cap intelek ini yang memperlakukan rakyat sebagai “perkakas” untuk kepentingan politiknya.

 

Kedua, Kebangsaan “cap korporat”, diisi oleh minoritas rakyat Indonesia, namun memiliki pengaruh yang sangat besar. Mereka berasal dari kelompok pengusaha kaya/besar yang menguasai korporasi-korporasi, baik yang mereka dirikan sendiri, maupun yang berasal dari warisan orang tua mereka.

Dengan kekayaan yang mereka miliki, mereka merasa mempunyai hak untuk ikut andil dalam menentukan arah perjalanan republik tercinta ini ke depannya.

Banyak instrumen yang bisa mereka pergunakan, yang salah satunya adalah dengan bergabung ke dalam sebuah partai politik. Dengan modal “tebal” yang mereka punya, mereka bisa dengan mudah menduduki jabatan-jabatan penting di dalam sebuah parpol, dan lebih jauh lagi mereka bisa duduk di lembaga-lembaga tinggi negara.

Pada akhirnya mereka bisa ikut campur dalam pembuatan kebijakan-kebijakan yang akan sangat mungkin mereka manfaatkan untuk menunjang kepentingan usahanya.

 

Ketiga, Kebangsaan “cap ningrat”, berisi orang-orang yang secara kebetulan berasal dari garis keturunan tokoh-tokoh yang berpengaruh di masa lampau.

Dikarenakan terdapat sebuah pepatah yang berbunyi “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, mereka berpendapat bahwa ketokohan pendahulunya tersebut juga layak untuk mereka teruskan/wariskan, tidak penting lagi apakah mereka mampu atau tidak .

Bahkan ada beberapa dari mereka yang memanfaatkan ketokohan orang tuanya untuk menghimpun massa pendukungnya yang memang sejak awal menaruh simpati kepada pendahulu-pendahulunya tersebut.

 

Keempat, Kebangsaan “cap rakyat”, tipe inilah yang sangat langka di zaman sekarang ini.

Biarpun sangat kecil dan sedikit, tapi saya rasa masih ada orang-orang yang berpandangan bahwa rakyat itulah yang merupakan badan dan jiwa bangsa.

Dengan rakyat, mereka akan naik dan karena rakyat pula, mereka akan turun (tetapi bukan yang dimanipulasi ya…!!!!).

 

*Maaf  kalau terlihat subyektif, tapi inilah kenyataannya saat ini.

Blogger, Social Media Strategist, SEO, Web Design.